Wednesday, July 11, 2012

tazkirah kerinduan hati menantikan ramadhan..

Bulan Ramadhan : Stasiun Besar Musafir Iman
Ustadz KH Rahmat Abdullah (Ketua MPP Partai Keadilan)

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran
rendah, menjadi semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah
api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan
maksimum, angin pun berhembus. Edaran yang pasti pada keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan.
Ruh pun, dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH, menerobos kesulitan
mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan gravitasi ‘bumi jasad’
memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala. Kini di
bulan ini ia jadi begitu ringan, menjelajah ‘langit ruhani’. Carilah bulan, diluar
Ramadhan, saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat
kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama di malam hari
menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan ‘ular harta’ yang membelitnya. Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap eraterat fitrah dan karakternya.
Marhaban ya Syahra Ramadhan Marhaban Syahra’ Shiyami Marhaban ya Syahra
Ramadhan Marhaban Syahra’l Qiyami

Keqariban di Tengah Keghariban
Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia
bertanya: "Ya Rasul ALLAH, dekatkah Tuhan kita, sehingga saya cukup berbisik saja
atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-Nya?" Sebagian kita telah begitu
‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika ‘beban-beban orang
bertuhan’ telah mereka persetankan. Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta
disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai.
Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks,
riba, suap, syahwat, dan seterusnya. padahal mereka masih berpijak di bumi-Nya.

Betapa menyedihkan, kader yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan,
padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-Nya. Betapa
bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan,
mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih
membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun
berikut, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.
Semua ayat dari 183-187 surat Al-Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa.
Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit untuk
mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah): ‘Sesungguhnya Aku ini dekat…" (Qs. 2
:185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa meni sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung ke bangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukang tiru yang rakus. Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antara warga atau anggota lembaga tinggi negara, bisniskan hukum, jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa status bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit?
Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu?
Berapa banyak kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?

Nuzul Qur-an di Hira, Nuzul di Hati

Ketika pertama kali Alqur-an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk yang sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalahkan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan menjadi kacau. Ada juga orang berfikir, malam qadar itu selesai sudah, karena ALLAH menyatakannya dengan Anzalna-hu (kami telah menurunkannya), tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Ma-laikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah Malaikat dan Ruh), dengan kata kerja permanen. Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya,fasiqnya dan shalihnya, mu-nafiqnya dan shiddiqnya, Yahudinya dan Nasraninya?Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang di kawasan?Jadi ketika Ramadhan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahagianya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Alqur-an di hati pada malam qadarnya masingmasing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badan pun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan bagi setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah kterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan di puncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ialah ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu

Alqur-an dulu, baru yang lain
Bacalah Alqur-an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan
perkaya wawasan dengan sirah, niscaya Islam itu terasa ni’mat, harmoni, mudah,
lapang dan serasi. Alqur-an membentuk frame berfikir. Alqur-an mainstream
perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolok ukur keadilan, kewajaran dan kesesuaian
dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan
pandangan parsial juz-i. Penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang
sederhana, menyentuh dan aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam,
menjauhkan perselisihan dan menghemat energi ummat.

Betapa da’wah Alqur-an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah
membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan di jantung tempat kelahirannya
sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad di garis depan, jauh sejak awal sejarah
ummat ini bermula. Bila Rasulullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya
yang paling banyak penguasaan Qur-annya. Bila me-nyusun komposisi pasukan,
diletakkannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan di masa awal sekali,
‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan ‘Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di Ka’bah?’. Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal ataujera walaupun pingsan dipukuli musyrikin kota Makkah.

Puasa: Da’wah, tarbiah, jihad dan disiplin
Orang yang tertempa makan (sahur) di saat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri
lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadhan setelah siangnya berlapar-haus, atau menahan semua pembatal lahir-batin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah masalah da’wah dalam kehidupannya, tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan. Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan di tengah badai takkan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang. Mereka terbiasa memburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai ke akhirat
negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing.
Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu
memahami ajarannya sendiri? "Faqidu’s Syai’ la Yu’thihi" (Yang tak punya apa-apa
tak akan mampu memberi apa-apa). Wahyu pertama turun di bulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadhan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman. Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yg menunggu jawaban serius.

No comments:

Post a Comment