Showing posts with label harokah. Show all posts
Showing posts with label harokah. Show all posts

Tuesday, January 26, 2010

widad dan intima'

Widad dan Intima’

Widad

Widad bererti saling cinta menyintai yakni kasih yg bertimbal balik, merupakan satu rumpun kata dengan mawaddah (QS Ar-Rum [30] :21). “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.

Sabda Rasulullah saw ’Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling bersimpati adalah seperti satu tubuh, jika ada satu organ yang sakit, maka organ-organ lainnya akan terkesan olehnya sehingga susah tidur dan demam.” (HR Muttafaqun ‘alaih).

Mengingatkan betapa penting wuddun atau widad atau tawaddihim inilah, maka Hasan Al Banna mengatakan: ‘Laa tufsiduu lil wuddi qodhiyyah’. Maksudnya: Janganlah permasalahan, pertikaian, perselisihan diantara sesama da’i, murabbi dan mutarabbi, qidayah dan junud, syekh dan murid menjadi penyebab hancurnya cinta kasih yang ada diantara mereka.

Intima’

Intima’ adalah penggabungan diri atau dokongan dgn membawa erti hubungan diantara sesama da’I atau murabbi’ dan mutarabbi, atau qiyadah dan junud hendaklah dibangunkan atas dasar ‘widad’, bahkan hubungan antara sesama muslim pun haruslah dibangun atas dasar dan prinsip ini.

Sebab itulah, dalam salah satu risalahnya, Hasan Al Banna menjelaskan bahwa lembaga tarbiyah hendaklah dibangunkan di atas tiga rukun yaitu ta’aruf, tafahum dan takaful. Dalam penjelasannya, ia memaparkan bahwa yang dimaksud dengan ta’aruf adalah upaya saling mengenali antara sesama da’i, saling mencintai karena Allah, upaya merasai nilai ukhuwwah yang benar dan sempurna, kesungguhan untuk tidak mengeruhkan hubungan dengan syi’ar ‘innamal mukminuuna ikhwah, wa’tashimu bihablillah.’

Sementara yang dimaksud ‘tafahum’ – adalah istiqamah di atas manhaj Al Haqq, menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, ‘muhasabatun- nafs’, saling menasihati dengan adab-adab dan upaya untuk senantiasa mencintai saudaranya, menghormati dan mencintainya.’

Imam Syafi’i berkata: ‘Al-hurru man raa-’aa widaada lahzhatin, wantamaa li man afaadahu lafzhatan’.’ Manusia merdeka adalah seseorang yang memperhatikan, memelihara ‘widad’ walaupun sesaat, dan berintima’ kepada orang yang telah memberikan faedah kepadanya, meskipun hanya ‘lafzhatan’ (satu kata). Pernyataan Imam Syafi’i ini perlu kita renungi ‘ibrah yang terkandung di dalamnya terutama dalam dakwah, tarbiyah dan harakah: Ada empat istilah yang perlu diperhatikan samaada kita sebagai ‘murabbi’ ataupun’ mutarabbi’, atau sebagai ‘qiyadah’ ataupun ‘junud’ iaitu ‘widad – muro’at – ifadah – intima’. Jika kita seorang ‘murabbi’, dan menginginkan adanya ‘muro’at’ (perhatian, penjagaan, pemeliharaan, dan pembelaan, kesetiaan dll) dari mutarabbi kita, maka terlebih dahulu, kita harus memberikan ‘widad’ kepada para ‘mutarabbi’ kita. Begitu juga qaid (pemimpin) yg menginginkan adanya ‘intima’’ (penggabungan diri, dukungan) dari junud maka terlebih dahulu, kita harus memberikan ‘ifadah’ (hal-hal yang bermanfaat dan berfaedah) kepada para ‘mutarabbi’ dan jundi kita. Sebaliknya, bila kita adalah ‘mutarabbi’, maka hendaklah kita menyadari betapa banyak ‘widad’ dan ‘ifadah’ yang telah kita dapatkan dari ‘murabbi’ bukan satu detik tetapi mungkin dah berbulan, atau bertahun bah kan bukan sekadar hanya satu kata (‘lafzhatin’), maka sewajarnyalah kita me-’muro’at-i’ dan ber-’intima’’ kepada murabbi kita itu. Begitu halnya sikap kita sebagai jundi terhadap ‘qiyadah’ kita.’ Kadang-kadang, sebagian kita menganggap bahwa hubungan antara ‘murabbi’ dan ‘mutarabbi’ adalah hubungan bahan semata-mata (menyampaikan bahan tarbiyah atau pembinaan). Persepsi seperti ini adalah salah, ada sesuatu yang lebih penting yaitu ‘widad’, maksudnya: sudah sejauh manakah sang Murabbi memberikan ‘widad’-nya kepada sang mutarabbi, dan sudah seberapa besar sang mutarabbi merasakan widad dari murabbinya.’

Sabda Rasulullah saw:’ “Tidaklah kalian masuk syurga sehingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai, …” (HR Muslim).’ ‘

Perlu kita ketahui bahwa hubungan (berdasarkan bahan) tidaklah sehebat hubungan ‘ifadah’, sebab, bisa saja seorang murabbi menyampaikan suatu bahan, akan tetapi, bagi mutarabbi, ia merasa tidak mendapatkan faedah apa-apa dari bahan itu yakni tidak mendapat sesuatu yang terasa betul sangat berguna bagi kehidupan agama seorang ‘mutarabbi’, atau ‘ma’asy’ (kehidupan duniawinya) atau boleh terjadi bahan itu sudah tidah menepati suasana yg baru sbb asyik2 itu itu juga atau mungkin terlalu hambar, kurang sedap, atau mungkin banyak kesalahan tulis dan ilmiahnya atau karena kemungkinan- kemungkinan lainnya yang menyebabkan hilangnya nilai faedah dari bahan itu.

Perlu ditegaskan di sini, bahwa tujuan kita memberikan ‘widad’ dan ‘ifadah’ bukanlah agar kita mendapatkan ‘muro’at’ dan ‘intima’’ tadi, akan tetapi, tujuan kita tetap utk meraih redha Allah swt, ‘muro’at’ dan ‘intima’ itu harus kita sikapi seperti ghanimah dalam peperangan, bila ada kita ambil, bila tidak ada kita sudah mengikhlaskannya untuk Allah swt dan mengharapkan ganjaran di sisi-Nya di akhirat nanti, amiiiin.

Marilah kita renung kembali empat kata penting dalam kalimat Imam Syafi’i di atas, semoga kita termasuk orang-orang yang mampu memberikan widad kepada ‘mutarabbi’ kita, bukan dengan tujuan ingin mendapatkan ‘muro’at’, akan tetapi karena Allah swt, dan semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa mampu memberikan ‘ifadah’ kepada orang lain, bukan dengan tujuan mendapatkan ‘intima’, akan tetapi karena ikhlas tulus untuk Allah swt, dan dalam rangka melaksanakan hadits Rasulullah saw: Sungguh, Allah swt memberikan hidayah kepada satu orang lantaran kamu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah (Muttafaqun ‘alaih).

Allahumma Aaaamin

Maktab Tarbiyyah, MSM UK & Eire

http://msmsheffield.wordpress.com/2010/01/07/widad-dan-intima/

Friday, January 22, 2010

intima' pada gerakan dakwah

dakwatuna.com – Jika kita memperhatikan perjalanan hidup kita, kita akan menemukan bahwa Allah telah memberikan kita nikmat dan karunia yang tidak terhingga kepada kita. Dimulai ketika kita terlahir dalam keluarga muslim dan hingga sekarang, Allah masih memberikan kita nikmat iman dan Islam. Berapa banyak manusia yang terlahir dalam lingkungan keluarga non-muslim hingga dewasa, bahkan sampai ajal menjemput. Mereka tetap tidak mendapatkan atau menjaga fitrah penciptaannya, yaitu Islam seperti disebutkan dalam hadits “kullu mauluudin yuuladu ‘alal fithrah” (tiap bayi dilahirkan atas fitrah Islam).
Saudaraku…
Bukankah ini karunia besar yang patut kita syukuri? Allah mencela dan mengancam orang yang tidak mensyukuri nikmat dengan siksa yang pedih nanti di akhirat,
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim:7)
Kelimpahan nikmat dan kebaikan yang Allah berikan kepada manusia disebutkan dalam beberapa ayat, di antaranya:
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Mulk:1)
Al-Qur’an mengungkapkan keberlimpahan kebaikan Allah dengan ungkapan “tabarak” yang arti sebenarnya adalah Maha Pemberi kebaikan yang berlimpah dan tak terhingga. Pengertian ini dapat kita lihat di ayat lain yang menyebutkan,
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat menghitungnya.” (Ibrahim:34)
Hal di atas cukup untuk menjadi alasan pribadi bagi seorang muslim untuk bersyukur dan membela Islam. Dalam tinjauan yang lebih luas lagi, Islam bukan hanya agama pribadi, tetapi juga sebuah arus dan ideologi yang harus diperjuangkan agar nilai-nilainya berjalan di muka bumi. Untuk tujuan ini, maka intima (berafiliasi) kepada Islam dan perjuangan dakwah Islam menjadi suatu keharusan dan wujud dari rasa syukur manusia kepada Allah Taala.
Islam adalah ideologi dan risalah Allah yang harus sampai kepada seluruh manusia atau menjadi rahmat bagi semesta. Tugas besar ini memerlukan orang-orang yang memiliki komitmen dan loyalitas serta keterikatan yang kuat kepada Islam. Pembelaan dan keberpihakan kita kepada Islam merupakan wujud intima kita kepada Islam dan gerakan dakwah. Ekspresi kesyukuran kita atas semua nikmat ini harus benar-benar terwujud.
Saudaraku…
Intima kepada Islam bukan berarti mengungkung manusia, mengikat manusia dan merasa tidak merdeka. Sisi lain dari pemahaman intima yang dapat diwujudkan adalah seperti yang dikatakan Imam Syafi’i dalam suatu syairnya,
الحُرُّ مَنْ رَاعَى وِدَادَ لحَظَةٍ أَو انْتَمَى لمِنَ أَفَادَهُ لَفْظَة
“Orang yang merdeka adalah orang menjaga (merawat) kasih sayang (ukhuwah) yang hanya sebentar atau orang yang berafiliasi kepada orang yang telah memberikan manfaat meski hanya satu kata.”
Dakwah dan tarbiyah telah memberikan sesuatu yang banyak kepada kita. Kita bukan hanya menerima ukhuwah sesaat dari saudara kita lainnya, bahkan bertahun-tahun kita telah hidup menjalin ukhuwah. Ilmu dan nilai yang bermanfaat buat kehidupan telah banyak kita dapatkan dari murabbi kita, dari qiyadah kita dan saudara sejawat kita. Jadi kita telah banyak berutang kepada dakwah dan pelaku dakwah itu sendiri, apalagi kepada Allah Taala, sumber segala kebaikan.
Dengan banyaknya kebaikan yang kita dapatkan dari dakwah dan tarbiyah, maka kita belum dapat dikatakan merdeka jika kita tidak dapat berterima kasih kepada para dai, murabbi, qiyadah, mas’ul (penanggung jawab) kita yang telah menunaikan hak ukhuwah kepada kita. Bukan hanya lahzhah(beberapa menit), tetapi bertahun-tahun kita merasakan kebaikan ukhuwah tersebut.
Manfaat yang kita dapatkan dari perkataan murabbi kita bukan hanya lafzhah(sepatah dua patah), tetapi ribuan kata dalam bentuk arahan, taujih, materi dan berbagai pelajaran telah kita dapatkan, bahkan sebagian kita ada yang membukukan materi yang mereka dapatkan.
Sudah sepantasnya dan tanpa ragu-ragu, kita harus memberikan kontribusi kita kepada dakwah dan gerakan dakwah ini sebagai wujud dan bukti intima kita kepada Islam.
Misi dakwah telah dibebankan kepada para dai. Mereka adalah manusia. Kepada merekalah kita menunjukkan intima Islam kita. Kepada murabbi, kepada mas’ul, kepada qiyadah dan kepada mereka yang urusan kita menjadi tanggungannya kita bekerja sama dan beramal jamai.
Ketaatan kita kepada qiyadah dan mas’ul merupakan cerminan intima kita kepada gerakan dakwah, karena Allah telah memerintahkan kita untuk taat kepada pemimpin.
Saudaraku…
Jika nikmat keislaman kita syukuri dengan berwala’ (memberikan loyalitas) kepada Allah, kepada Rasul dan kepada pemimpin Islam, maka nikmat berukhuwah dapat kita syukuri dengan senantiasa berafiliasi kepada gerakan dakwah dalam kerja dan ketaatan kepada kebijakan dakwah, insya Allah. Wallahu a’lam

http://www.dakwatuna.com/2009/intima-pada-gerakan-dakwah/

Shidqul Intima' (menjadi angota jamaah yang sebenarnya)

Berikut disiarkan petikan beberapa perenggan menarik dan relevan dari artikel Shidqul Intima (Menjadi Anggota Jamaah Yang Sebenarnya) .
Artikel asal Bahasa Arab di http://www.ikhwanonline.com/Article.asp?ArtID=31856&SecID=323
Terjemahan penuh Bahasa Indonesia di http://www.al-ikhwan.net/shidqul-intima-menjadi-anggota-jamaah-yang-sebenarnya-1284/

1. Beza Jamaah Dengan Perkumpulan (Tajammu’)
Tajammu’ :
  • Berdiri dan bubar berdasarkan pendapat, kesenangan dan keinginan personal,
  • Tidak ada nizham yang mengikatnya,
  • Tidak ada pula kaidah-kaidah yang mengatur pergerakannya.
  • Setiap orang memiliki pendapat dan kepribadiannya secara mandiri.

Sedangkan jama’ah memiliki:
  • Sistem dan manhaj hayah,
  • Perancangan strategi, sasaran taktik,
  • Nizham idari, struktur organisasi, dan jalur perintah (line of command),
  • Perlembagaan (Laihah), dan perturan (qanun),
  • Program dan instrumen kerja

2. Syahwat ataukah Syubhat?
Beliau (Imam Al-Banna ) pun meminta Ikhwan untuk memperhatikan bahaya urusan ini dan akibatnya yang sangat fatal. Beliau juga menekankan pentingnya melakukan pengawasan terhadap barisan serta membersihkannya dari orang-orang lemah.
Beliau berkata: “Jika ada di tengah-tengah kamu orang yang sakit hatinya, cacat tujuannya, tersembunyi keinginannya, dan cacat masa lalunya, maka keluarkanlah mereka dari dalam barisan kalian, sebab orang seperti ini menjadi penghalang rahmat dan penutup taufiq Allah SWT”.
3. Emosi ataukah Akal
“Kekanglah lompatan-lompatan emosi dengan akal, dan terangi cahaya akal dengan bara emosi, kekang khayalan yang ada dengan kebenaran hakikat dan realiti, ungkap berbagai hakikat dalam sorotan khayalan yang memukau dan berkilau, dan janganlah seluruh kecenderungan diikuti, sebab ia akan menjadikannya seperti tergantung (tidak membumi dan tidak pula melangit)”.
Ini adalah kata-kata abadi yang diarahkan oleh Imam Al-Banna rahimahullah kepada para ikhwan. Taujih (arahan) ini dimaksudkan untuk:
  • Mendisiplinkan barisan muslim agar tidak terjadi inhiraf dalam pemahaman, pemikiran ataupun perilaku.
  • Merealisasikan fokus tawazun dan i’tidal (moderasi) dalam manhajiyyatut-tafkir al-ikhwani (metodologi berfikir Ikhwan).
  • Menjaga barisan agar tidak dipermainkan oleh berbagai emosi yang meluap nan membara atau akal pikiran yang berfikir dengan gaya para ahli falsafah.
Jadi, jangan ada dominasi akal atas emosi dan jangan ada permainan perasaan yang mendominasi pemikiran. Taujih ini adalah pandangan yang objektif, seimbang, moderat, dan bimbingan dari seorang panglima yang mengasaskan dakwah ini, semoga Allah SWT merahmatinya.
4. Hawa Nafsu ataukah Prinsip?
Imam Al-Banna menulis Ushul ‘Isyrin ini:
  1. Dalam rangka kesatuan pemikiran, gerakan dan manhaj tarbawi bagi Jama’ah di tengan berbagai badai,
  2. Agar tidak muncul berbagai madrasah pemikiran atau “jama’ah-jama’ah” yang menyusup ke tengah-tengah Jamaah,
  3. Untuk tidak memberi toleransi terhadap adanya pemikiran yang menyusup atau gagasan yang menengtang Jamaah –disebabkan adanya emosi yang meluap yang bermaksud menyusupbarisan,
  4. Untuk menjaga jama’ah agar tetap berada di atas garis tarbawi dan da’awi yang asal, menepis berbagai kotoran dan upaya-upaya penumpangan terhadapnya,
  5. Dan pada akhirnya agar menjadi rujukan saat terjadi ikhtilaf (perbedaan) atau saat munculnya satu bentuk inhiraf, sebab Ushul ‘Isyrin dapat membantu penyelamatan amal, dan implementasi yang baik yang akan menjaga Jama’ah dan anggotanya dari berbagai penyelewengan.
5. Orang-Orang yang Muncul di Permukaan ataukah Tersembunyi
Kepada Ikhwan yang seperti itulah yang mulia Mursyid ‘Am Syeikh Mahdi ‘Akif mengarahkan taujih-nya dalam risalahnya yang mutaakhir “Dan bagi mereka yang melihat bahwa dalam menjalani jalan dakwah ini terdapat peluang populariti umum dan gemerlapnya para bintang, sungguh ia telah benar-benar merugi, sebab, para pelaku dakwah tidak melihat adanya balasan selain pahala Allah SWT jika mereka ikhlas, dan syurga jika Allah SWT mengetahui bahwa dalam dirinya terdapat kebaikan, dan mereka itu beginilah adanya, orang-orang yang tersembunyi dari sisi tampilan umum, dan miskin dari sisi material, keadaan mereka adalah men-tadh-hiyah-kan apa yang mereka miliki, dan memberikan apa yang ada di tangan mereka, harapan mereka adalah ridha Allah, dan Dia-lah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”.
6. Tsawabit ataukah Mutaghayyirat?
Ia merupakan tsawabit al-’amal dalam dakwah kita. Darinya menjadi jelas sebagian dari kaedah-kaedah tanzhimi kita:
  • Siapa menyalahkan siapa?
  • Siapa meng-audit siapa?
  • Adakah anggota (person) berhak menyalahkan Jamaah? Ataukah sebaliknya?!
Perbezaan antara nasihat, tidak mendiamkan kesalahan dan kritik membina yang diletakkan pada tempatnya yang benar di satu sisi dan antara memaksakan pendapat. Di manakah nasihat? Bilakah diberikan? Dan apakah ia bersifat mulzimah (mengikat)?
7. Membela ataukah Menjaga
Shidqul intima’ wal wala’ (keanggotaan dan kesetiaan yang benar) terhadap dakwah yang diberkati ini, yang ada di dalam jiwa seorang akh yang shadiq, diukur berdasarkan tingkat pelaksanaannya terhadap tugas yang diminta darinya untuk dakwahnya, dalam berbagai keadaan, dalam zhuruf apapun.
Hendaklah kita menjaga faktor-faktor kekuatan di dalam Jama’ah, yang wujud dalam:
  • Kesatuan pemikiran, keanggotaan dan tanzhimi
  • Keterikatan barisan yang tegak di atas ukhuwwah,
  • Pelaksanaan hak-hak ukhuwwah secara sempurna yang berupa: cinta, penghargaan, bantuan dan itsar
  • Menghadiri berbagai pertemuan jama’ah dan jangan tidak hadir kecuali karena adanya alasan yang “memaksa”.
  • Selalu mendahulukan ber-mu’amalah dengan ikhwah
  • Menerima pendapat dalaman yang berbeza
  • Saling memberi nasihat, tidak mendiamkan kesalahan dan berterus terang dalam memberikan mauizhah, akan tetapi pada tempatnya yang wajar.
  • Bekerja untuk menyebarluaskan dakwah kita di semua tempat.
  • Memberitahukan kepada qiyadah tentang berbagai situasi dan keadaan kita secara sempurna.
  • Tidak melakukan suatu pekerjaan yang memiliki pengaruh secara mendasar kecuali dengan izin
  • Selalu berhubung secara ruhi dan amali dengan dakwah
  • Selalu memandang diri sendiri sebagai perajurit di berek yang menunggu segala perintah
  • Melepaskan diri dengan berbagai hubungan dengan institusi atau jama’ah apapun yang tidak membawa maslahat bagi fikrah kita, khususnya jika hal ini diperintahkan
dipetik dari
http://fikrah-dakwah.blogspot.com/2009/11/shidqul-intima-menjadi-anggota-jamaah.html